Kabar Terbaru

Aplikasi

Pengunjung

SEJAK 1 MEI 2017

Flag Counter

Total Pageviews

Silabus Kurikulum 2013 Kelas 1,2,3,4,5 dan 6 SD/MI Tahun 2018

Diposkan Oleh On June 16, 2018

silabus kurikulum k13 sd-mi
Pembelajaran dengan pendekatan tematik dalam SILABUS KURIKULUM 2013 ini mencakup kompetensi mata pelajaran yaitu: PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dn Prakarya, dan Pendidikan Jasmani Olahraga serta Kesehatan. Sedangkan mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tidak termasuk mata pelajaran dalam tematik. Pembelajaran tematik dilaksanakan di semua kelas di SD baik di kelas I-III (kelas rendah) maupun kelas IV–VI (kelas tinggi). Di kelas rendah belum ada mata pelajaran IPA serta IPS yg berdiri sendiri namun muatan IPA serta IPS diintegrasikan ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.  Untuk mata pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani Olahraga serta Kesehatan dilakukan secara tematik hanya sampai dengan kelas III, untuk kelas IV, V, serta VI diajarkan sebagai mata pelajaran yng berdiri sendiri.

Integrasi SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 sebagai suatu pengelolaan pembelajaransekitar problem dn isu di masyarakat, sehingga diperlukan kolaborasi oleh guru dan siswa tanpa memandang pada mata pelajaran.  Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran  mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Penentuan tema  dijadikan sebagai ide besar dari pembelajaran yang menghubungkan konsep dn kompetensi yg ingin dicapai oleh siswa.

Pendekatan dalam SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 dimaksudkan agar siswa tidak belajar secara parsial sehingga pembelajaran dapat memberikan makna yg utuh pada siswa seperti tercermin pada berbagai tema yg tersedia.  Tema yng pilih sedapat mungkin didekatkan dengan hal-hal dialami siswa.  Pembelajaran tematik disusun berdasarkan berbagai proses integrasi yaitu integrasi intradisipliner, multi-disipliner inter-disipliner, dan trans-disipliner. Muatan-muatan dapat diintegrasikan dalam pembelajaran merujuk pada aktivitas besar yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, yaitu kemaritiman, agraris, dan niaga/jasa. 

Oleh karena itu, dalam SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 kontekstual pendidikan perlu dipersiapkan pada peserta didik agar dapat hidup di masa depan & beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah melalui kemampuan berfikir kritis/memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi dn kolaborasi.  Selain itu peserta didik juga disiapkan dengan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan sebagai suatu keterampilan dalam kehidupan sehari-hari sebagai aplikasi dari kemampuan baca tulis, berhitung, literasi sains, literasi informasi teknologi ,komunikasi, literasi keuangan, serta literasi budaya serta kewarganegaraan.  Terpenting dari semua itu, pendidikan diarahkan untuk membangun kecintaan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yg merepresentasikan kebhinekaan agama, suku bangsa, bahasa, sosial, ekonomi, dan budaya masyakarat Indonesia. Peserta didik juga diharapkan menjadi warga negara yg bertanggung jawab dengan memahami hak dn kewajiban sebagai warga negara Indonesia juga dibatasi oleh hak & kewajiban warga negara lainnya.  Untuk itu pembelajaran diarahkan untuk membangun empati, demokratis, dan memberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat serta menerima pendapat orang lain.

SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 merupaan silabus tematik yng dikembangkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan merupakan suatu model, satuan pendidikan dapat mengembangkan silabus tematik dengan mengambil tema yang disesuaikan dengan karakteristik satuan pendidikan.  Satuan pendidikan juga dapat langsung menggunakan model silabus ini atau dapat juga dengan mengadaptasi sesuai karakteristik satuan pendidikan. Selain itu, bagi guru yg ingin menyusun sendiri pembelajaran tematik terpadu dapat menggunakan Silabus Mata Pelajaran di SD/MI yng terpisah dari dokumen ini.

B. Karakteristik Mata Pelajaran di SD dalan SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,          (SD/MI) TAHUN 2018 .
Kurikulum 2013 memiliki tujuan khusus untuk mempersiapkan generasi baru sertapenerus bangsa yang memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dn warga negara yg beriman, produktif, kreatif, inovatif, serta afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dn peradaban dunia.  Untuk itu, perancangan kurikulum 2013 perlu memperhatikan kebutuhan siswa saat ini dan di masa depan yang dinamis ditengah pengaruh globalisasi dn kemajemukan masyarakat Indonesia.  

Memperhatikan konteks global dn kemajemukan masyarakat Indonesia itu, misi & orientasi kurikulum 2013 tertuangkan dalam  SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 diterjemahkan dalam praktik pendidikan dengan tujuan khusus agar siswa memiliki kompetensi diperlukan bagi kehidupan masyarakat di masa kini serta di masa mendatang. Kompetensi dimaksud meliputi tiga kompetensi, yaitu: (1) menguasai pengetahuan; (2) memiliki keterampilan atau kemampuan menerapkan pengetahuan; (3) menumbuhkan sikap spiritual serta etika sosial tinggi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Kompetensi sikap spiritual , sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dn budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa. Penumbuhan serta pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang  proses pembelajaran berlangsung,  dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter siswa lebih lanjut. Mata pelajaran yang diajarkan secara tematik di SD adalah:
1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
2. Bahasa Indonesia
3. Matematika
4. Ips
5. Ipa
6. Pjok
7. Sbdb

C. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu dalam silabus kurikulum 2013 meliputi
        Pembelajaran tematik terpadu memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu.
2. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan kompetensi melalui tema yang paling dekat          dengan kehidupan peserta didik.
3. Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan dengan                  berbagai konsep, keterampilan dan sikap.
4. Sumber belajar tidak terbatas pada buku.
5. siswa dapat bekerja secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan karakteristik kegiatan            yng dilakukan
6. Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran agar dapat mengakomodasi siswa              memiliki perbedaan tingkat kecerdasan, pengalaman, dn ketertarikan terhadap suatu topik.
7. Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak dapat dipadukan dapat diajarkan tersendiri.
8. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa(direct experiences) dari hal-hal yang konkret menuju ke abstrak.
9. Pembelajaran tematik yang dirancang dalam silabus bukan merupakan urutan Pembelajaran, melainkan bentuk Pembelajaran untuk mencapai Kompetensi Dasar guru dapat melakukan penyesuaikan.

Download Model Pembelajaran Tematik Kelas 1, 2, 3 SD/MI

Diposkan Oleh On June 16, 2018

model pembelajaran tematik sd
Selamat berkunjung kembali di blog Guru Madrasah yang selalu menyajikan update artikel pendidikan. Dan  pada postingan ini kami akan berbagi artikel tentang Model Pembelajaran Tematik Kelas 1, 2, 3 jenjang SD/MI Kurikulum 2013 yang bisa anda unduh pada akhir postingan secara gratis.

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik. Dan sedangkan tema merupakan pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi topik pembelajaran.

Tujuan Model Pembelajaran Tematik SD/MI Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut:
1. Memusatkan perhatian peserta didik mudah pada suatu tema materi yang jelas;
2. Mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4. Memudahkan guru dalam mempersiapkan dan menyajikan bahan ajar yang efektif.

Model Pembelajaran Tematik Kelas I, II, III SD/MI K13 ini merupakan pedoman dalam pelaksanan kegiatan belajar mengajar di kelas sesuai dengan PPK, Literasi, 4C, HOTS.

Selengkapanya mengenai Model Pembelajaran Tematik Kelas 1, 2, 3 jenjang SD/MI Kurikulum 2013 untuk tahun pelajaran 2018/2019 bisa mengunduhnya melalui tautan link yang kami sediakan di bawah ini.

Unduh File :
Model Pembelajaran Tematik Kelas 1, 2, 3 SD/MI K13.pptx
Demikian Model/ Pedoman Pembelajaran Tematik Kelas 1, 2, 3 SD/MI Kurikulum 2013 yang bisa Blog Guru Madrasah bagikan, smeoga bermanfaat.

Panduan Lengkap Sholat Idul Fitri dan Idul Adha

Diposkan Oleh On June 14, 2018

Panduan Lengkap Sholat Idul Fitri dan Idul Adha
Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang di sarikan dari beberapa penjelasan ulama yang kami kutip dari www.rumaysho.com. Semoga bermanfaat.

Hukum Shalat ‘Ied
Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim[1]. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.”[2]

Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).[3]

Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukannya.

Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.

Ketiga: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.

Keempat: Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari ‘ied. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat ‘ied. –Demikian penjelasan Shidiq Hasan Khon yang kami sarikan-.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah pendapat yang lemah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan shalat ‘ied. Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat ‘ied. Shalat ‘ied adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. … Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan shalat ‘ied, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?”[4]

Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied
Menurut mayoritas ulama –ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali-, waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak[5] sampai waktu zawal (matahari bergeser ke barat).[6]

Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan shalat ‘Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha. Ibnu ‘Umar  yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”[7]

Tujuan mengapa shalat ‘Idul Adha dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih qurbannya. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur bertujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fithri.[8]

Tempat Pelaksanaan Shalat ‘Ied
Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى

“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.”[9]

An Nawawi mengatakan, “Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”[10]

Tuntunan Ketika Hendak Keluar Melaksanakan Shalat ‘Ied
Pertama: Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”[11]

Kedua: Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”[12]

Ketiga: Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri.

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”[13]

Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.[14]

Keempat: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan,

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”[15]

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”[16]

Tata cara takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan:
[1] Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.[17]
[2] Di antara lafazh takbir adalah,
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[18]

Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, itu juga diperbolehkan.[19]

Kelima: Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.

Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab,

نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ

“Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.”[20]

Keenam: Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.”[21]

Ketujuh: Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.”[22]

Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.”[23]

Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied
Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.

“Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”[24]

Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”[25]

Tata Cara Shalat ‘Ied
Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.[26]

Pertama: Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.

Kedua: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”[27]

Ketiga: Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”[28] Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي

“Subhanallah wal hamdulillah wa  laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii (Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).” Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah Ta’ala.

Keempat: Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Ia pun menjawab,


كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca “Qaaf, wal qur’anil majiid” (surat Qaaf) dan “Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar” (surat Al Qomar).”[29]

Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat ‘ied maupun shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa)dan “Hal ataka haditsul ghosiyah” (surat Al Ghosiyah).” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[30]

Kelima: Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).

Keenam: Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.

Ketujuh: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.

Kedelapan: Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Kesembilan: Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.

Khutbah Setelah Shalat ‘Ied
Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ – رضى الله عنهما – يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.”[31]

Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at).[32] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar.[33] Beliau pun memulai khutbah dengan “hamdalah” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammembuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir. … Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.”[34]

Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.”[35]

Ucapan Selamat Hari Raya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin  mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).”

Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at
Bila hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum’at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari hal ini adalah:

Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,
أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».

“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan melaksanakannya.”[36]

Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].”[37] Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.[38]

Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[39]

Catatan:
Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied dan shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[40] Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum’at yang bertepatan dengan hari ‘ied, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid.

Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka’at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum’at.[41]

Demikian beberapa penjelasan ringkas mengenai panduan shalat Idul Fithri dan Idul Adha. Semoga bermanfaat.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.



Diselesaikan di Pangukan, Sleman, di hari yang baik untuk beramal sholih, 7 Dzulhijah 1430 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Perangkat Pembelajaran Kelas 11 SMA/MA/SMK Kurikulum 2013 Revisi 2017

Diposkan Oleh On June 13, 2018

Perangkat Pembelajaran Kelas 11 SMA/MA/SMK Kurikulum 2013 Revisi 2017
Administrasi Pembelajaran Kelas XI Kurikulum 2013 Revisi 2017 yang coba Guru Madrasah bagikan ini dapat anda gunakan rebagai referensi/ contoh dalam pembuataan perangkat pembelajaran Kelas 11 SMA tahun pelajaran 2018/2019.

Perangkat pembelajaran kelas XI k13 revisi 2017 ini sudah di lengkapi dengan PPK, Literasi, 4C, HOTS. Sebagaimana kita ketahui bersama, di tahun pelajaran 2018/2019 perangkat pembelajaran wajib di miliki dan di susun oleh guru kelas 11 SMA/MA/SMK.

Perangkat Pembelajaran Pendidikan Kelas 11/ IX jenjang SMA Kurikulum 2013 Revisi 2017 di simpan pada folder rar, sehingga untuk membukannya bapak/ ibu guru harus mengekstraknya terlebih dahulu.

Adapun isi dari perangkat kelas 11 ini terdiri dari:
1. Akreditasi SMA
2. Panduan Penilaian
3. Regulasi Kurikulum 2013
4. Buku Guru dan Siswa kurikulum 2013
5. Perangkat PKn kelas 11 Kurikuum 2013, terdiri dari:
- Cover
- RPP Semester 1 dan semester 2
- Silabus
- Analisis KI KD
- Analisis Standar Kompetensi kelulusan
- Pemetaan
- Format KKM
- Analisis alokasi waktu
- Analisis Kompetensi
- Lembar Penilaian
- Jurnal guru
- Kalender pendidikan 2017/2018
- Program tahunan
- Program semester

Download Perangkat Pembelajaran Akidah Akhlak MTs Kelas 7 Kurikulum 2013

Diposkan Oleh On June 13, 2018

perangkat pembelajran akidah mts kelas 7
Perangkat Pembelajaran Akidah Akhlak MTs Kelas 7 Kurikulum 2013 ini terdiri dari berkas-berkas Silabus Aqidah Akhlaq MTs Kelas 7 Semester 1&2, RPP Aqidah Akhlaq MTs Kelas 7 Semester 1, Prota Aqidah Akhlaq MTs Kelas 7 Semester 1&2, Prosem Aqidah Akhlaq MTs Kelas 7 Semester 1&2, Pemetaan KD Aqidah Akhlaq MTs Kelas 7 Semester 1&2, KKM Aqidah Akhlaq MTs Kelas 7 Semester 1&2, Rincian Pekan&Jam Efektif Aqidah Akhlaq MTs Kelas 7 Semester 1&2, SKL,SK-KD Aqidah Akhlaq MTs Kelas 7 Semester 1&2, AKIDAH AKHLAK VII BUKU GURU, BUKU SISWA AKIDAH AKHLAK VII MTs 2013.

Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab

Diposkan Oleh On June 13, 2018

kurikulum madrasah 2013 mapel pai dan bahsa arab
KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM 2013
Pendahuluan
1. Kerangka Umum
Kerangka dasar kurikulum Madrasah merupakan landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum. Sedang struktur kurikulum Madrasah merupakan pengorganisasian kompetensi inti, mata pelajaran, beban belajar dan kompetensi dasar pada setiap Madrasah.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam segala urusan yang menjadi tanggung jawabnya. 

Untuk mencapai tujuan tersebut, madrasah adalah salah satu bagian penting dari sistem pendidikan di Indonesia. Lebih khusus lagi porsi bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang cukup besar, dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.

2. Latar Belakang Pengembangan 
a. Pengertian Kurikulum 
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. 

Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. 

b. Rasional Pengembangan 
1) Tantangan Pengembangan
Pendidikan agama Islam sangat dibutuhkan bagi umat Islam, agar dapat memahami secara benar ajaran Islam sebagai agama yang sempurna (kaamil), kesempurnaan ajaran Islam yang dipelajari secara integral (kaaffah) diharapkan dapat meningkatkan kualitas umat Islam dalam keseluruhan aspek kehidupanya. Agar ajaran Islam dapat dipelajari secara efektif dan efisien, maka perlu dikembangkan kurikulum pendidikan agama Islam sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Demikian pula dengan mata pelajaran Bahasa Arab yang sangat diperlukan sebagai alat untuk mempelajari dan mendalami sumber-sumber primer dari Pendidikan Agama Islam yang menggunakan Bahasa Arab terutama Al-Qur’an dan Hadis.

Selain adanya ketentuan legal-formal yang mengharuskan adanya perubahan dan penyempurnaan kurikulum, masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia mengalami perubahan yang sangat cepat dan dalam dimensi yang beragam terkait dengan kehidupan individual, masyarakat, bangsa, dan umat manusia. Fenomena globalisasi yang membuka batas-batas fisik (teritorial) negara dan bangsa dipertajam dan dipercepat oleh kemajuan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi. 

Kemajuan ilmu pengetahuan memperkuat dampak globalisasi dan kemajuan teknologi tersebut. Perubahan yang terjadi dalam dua dasawarsa terakhir mengalahkan kecepatan dan dimensi perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia di abad-abad sebelumnya. Perubahan tersebut telah menjangkau kehidupan manusia dari tingkat global, nasional, dan regional serta dari kehidupan sebagai umat manusia, warga negara, anggota masyarakat dan pribadi.

Perubahan dan penyempurnaan tersebut menjadi penting seiring dengan kontinuitas segala kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. 

Jenlink (1995) mengungkapkan bahwa the future will bedramatically different from the present, and it is already calling us into preparation for major changes being brought to life by forces of change that will require us to transcend current mindsets of the world we know --- masa depan akan berbeda secara dramatis dari masa sekarang, dan itu akan menuntut untuk dipersiapkan antisipasi terjadinya perubahan penting pada kehidupan. Dengan terjadinya perubahan tersebutdiperlukan usaha untuk mengalihkan pola pikir dalam menatap tentang dunia yang begitu cepat mengalami perobahan hingga saat ini dan yang akan datang.

Pendidikan yang dalam hal ini kurikulum madrasah sebagai the heart of education (Klein, 1992) harus mempersiapkan generasi bangsa yang mampu hidup dan berperan aktif dalam kehidupan lokal, nasional, dan lokal yang mengalami perubahan dengan cepat tersebut. Sebagaimana diungkapkan oleh Oliva (1982), kurikulum perlu memperhatikan perubahan yang terjadi di masyarakat, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan politik. Perubahan yang dikemukakan di atas memberikan landasan kuat bagi perubahan suatu kurikulum di lingkungan madrasah.

Kenyataan adanya amanat legal dan kehidupan manusia yang berubah cepat yang menyebabkan perubahan dan penyempurnaan kurikulum madrasah merupakan suatu keniscayaan yang tak dapat dihindari. Atas dasar itu, rancangan konseptual dan kontekstual penyempurnaan kurikulum menjadi suatu keniscayaan yang harus disiapkan secara matang. 

Dengan adanya dokumen kurikulum PAI dan Bahasa Arab ini, Kementerian Agama telah berupaya untuk mentransformasikan pemikiran yang menjembatani segala sesuatu yang telah ada saat ini (what it is) dengan segala sesuatu yang seharusnya ada di masa yang akan datang (what should be next) dalam suatu rancangan kurikulum yang fungsional dan aktual dalam kehidupan.

Sesuai dengan arah kebijakan dan penugasan secara khusus, selanjutnya Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menjabarkan aspek yang berkenaan dengan pengembangan kurikulum dan penguatan pelaksanaan kurikulum satuan pendidikan dengan melakukan rekonseptualisasi ide kurikulum, desain kurikulum, implementasi kurikulum, dan evaluasi kurikulum.

Rekonseptualisasi ide kurikulum merupakan penataan ulang pemikiran teoritik kurikulum berbasis kompetensi. Teori mengenai kompetensi dan kurikulum berbasis kompetensi diarahkan kepada pikiran pokok bahwa konten kurikulum adalah kompetensi, dan kompetensi diartikan sebagai kemampuan melakukan sesuatu (ability to perform) berdasarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Hal tersebut terumuskan dalam Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).

Ketetapan yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Agama memperlihatkan arah yang jelas bahwa kurikulum baru yang dikembangkan perlu mempedulikan aspek-aspek potensi manusia yang terkait dengan domain sikap untuk pengembangan soft-skills yang seimbang dengan hard-skills, seiring dengan ruh Pendidikan Agama Islam itu sendiri.

Desain pengembangan kurikulum baru harus didasarkan pada pengertian bahwa kurikulum adalah suatu pola pendidikan yang utuh untuk jenjang pendidikan tertentu. Desain ini menempatkan mata pelajaran sebagai organisasi konten kurikulum yang terbuka dan saling mempengaruhi. Desain kurikulum yang akan digunakan untuk mengembangkan kurikulum baru harus mampu mengaitkan antar konten kurikulum baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.

Selanjutnya dalam pengembangan kurikulum keseluruhan dimensi kurikulum, yaitu ide, desain, implementasi dan evaluasi kurikulum, direncanakan dalam satu kesatuan. Hal inilah sebenarnya yang menjadi inti dari pengembangan kurikulum (curriculum development).

Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. Di samping itu, dalam menghadapi tuntutan perkembangan zaman, perlu adanya penyempurnaan pola pikir dan penguatan tata kelola kurikulum serta pendalaman dan perluasan materi. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya penguatan proses pembelajaran dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan.

2) Penyempurnaan Pola Pikir 
Untuk memenuhi pengembangan kerangka berpikir yang sesuai dengan kebutuhan, maka kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir sebagai berikut: 
a) pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang sama; 
b) pola pembelajaran satu arah (interaksi guru-peserta didik) menjadi pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media lainnya); 
c) pola pembelajaran terisolasi menjadi pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet); 
d) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains); 
e) pola belajar sendiri menjadi belajar kelompok (berbasis tim); 
f) pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia; 
g) pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik; 
h) pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines); dan 
i) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis. 

3) Penguatan Tata Kelola 
Pelaksanaan kurikulum selama ini telah menempatkan kurikulum sebagai daftar mata pelajaran. Pendekatan Kurikulum 2013 diubah sesuai dengan kurikulum satuan pendidikan. Oleh karena itu dalam Kurikulum 2013 dilakukan penguatan tata kelola sebagai berikut: 
a) tata kerja guru yang bersifat individual diubah menjadi tata kerja yang bersifat kolaboratif; 
b) penguatan manajeman madrasah melalui penguatan kemampuan manajemen kepala madrasah sebagai pimpinan kependidikan (educational leader); dan 
c) penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses pembelajaran. 

4) Penguatan Materi 
Penguatan materi sebagai proses tersistem dalam pembelajaran untuk memberikan bobot penguasaan materi esensial ataupun non esensial. Penguatan materi dimaksudkan untuk memperdalam dan memperluas tingkat penguasaan sesuai kmpetensi dasar. Secara operasional penguatan materi dilakukan dengan cara pendalaman dan perluasan materi yang relevan bagi peserta didik. 

3. Karakteristik Kurikulum 
Kurikulum 2013 ini dirancang dengan karakteristik sebagai berikut: 
  1. mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik; 
  2. madrasah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar; 
  3. mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di madrasah dan masyarakat; 
  4. memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan; 
  5. kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran; 
  6. kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasian (organizing elements) kompetensi dasar, di mana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti; 
  7. kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). 

4. Tujuan Kurikulum 
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. 

Kerangka Dasar 
1. Landasan Filosofis 
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya.   

Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. 

Pada dasarnya tidak ada satupun filosofi pendidikan yang dapat digunakan secara spesifik untuk pengembangan kurikulum yang dapat menghasilkan manusia yang berkualitas. Berdasarkan hal tersebut, Kurikulum 2013 dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut:

a. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Dengan demikian, tugas mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik, Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini. 

b. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi anak bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kemampuan berpikir rasional dan kecemerlangan akademik dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan cemerlang dalam akademik, Kurikulum 2013 memposisikan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini. 

c. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan kurikulum memiliki nama mata pelajaran yang sama dengan nama disiplin ilmu, selalu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik. 

d. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism). 

Dengan filosofi ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik. 

Dengan demikian, Kurikulum 2013 menggunakan filosofi sebagaimana di atas dalam mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan umat manusia. 

2. Landasan Teoritis Kurikulum 
Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warga negara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluasluasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak. 

Kurikulum 2013 menganut: (1) pembelajaan yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di madrasah, kelas, dan masyarakat; dan (2) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curriculum) sesuai dengan latar belakang, karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum. 

Struktur Kurikulum 
1. Kompetensi Inti Kurikulum 
Sejalan dengan filosofi progresivisme dalam pendidikan, Kompetensi Inti ibaratnya adalah anak tangga yang harus ditapaki peserta didik untuk sampai pada kompetensi lulusan jenjang Madrasah Aliyah. Kompetensi Inti (KI) meningkat seiring dengan meningkatnya usia peserta didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas. Melalui Kompetensi Inti, integrasi vertikal berbagai kompetensi dasar (KD) pada kelas yang berbeda dapat dijaga. 

Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi, Kompetensi Inti juga memiliki multidimensi. Untuk kemudahan operasionalnya, kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua. Pertama, sikap spiritual yang terkait dengan tujuan pendidikan nasional membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa. Kedua, sikap sosial yang terkait dengan tujuan pendidikan nasional membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. 

Kompetensi Inti bukan untuk diajarkan melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran berbagai kompetensi dasar dari sejumlah mata pelajaran yang relevan. Dalam hal ini mata pelajaran diposisikan sebagai sumber kompetensi. Apapun yang diajarkan pada mata pelajaran tertentu pada suatu jenjang kelas tertentu hasil akhirnya adalah Kompetensi Inti yang harus dimiliki oleh peserta didik pada jenjang kelas tersebut. Tiap mata pelajaran harus tunduk pada Kompetensi Inti yang telah dirumuskan. Karena itu, semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan Kompetensi Inti. 

Kompetensi Inti akan menagih kepada tiap mata pelajaran apa yang dapat dikontribusikannya dalam membentuk kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik. Ibaratnya, Kompetensi Inti adalah pengikat berbagai kompetensi dasar yang harus dihasilkan dengan mempelajari tiap mata pelajaran serta berfungsi sebagai integrator horizontal antar mata pelajaran. 

Dalam konteks ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi Inti menyatakan kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi. Dengan demikian, kompetensi inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk organisasi vertikal dan organisasi horizontal kompetensi dasar. 

Organisasi vertikal kompetensi dasar adalah keterkaitan kompetensi dasar satu kelas dengan kelas di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang berkesinambungan antar kompetensi yang dipelajari peserta didik. Organisasi horizontal adalah keterkaitan antara kompetensi dasar satu mata pelajaran dengan kompetensi dasar dari mata pelajaran yang berbeda dalam satu kelas yang sama sehingga terjadi proses saling memperkuat.

Rumusan Kompetensi Inti dalam buku ini menggunakan notasi: 1) KI-1 untuk Kompetensi Inti sikap spiritual, 2) KI-2 untuk Kompetensi Inti sikap sosial, 3) KI-3 untuk Kompetensi Inti pengetahuan (pemahaman konsep), 4) KI-4 untuk kompetensi inti keterampilan. Urutan tersebut mengacu pada urutan yang disebutkan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa kompetensi terdiri dari kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. 

Selanjutnya Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah dirumuskan untuk jenjang satuan pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) dipergunakan untuk merumuskan kompetensi dasar (KD) yang diperlukan untuk mencapainya. Mengingat standar kompetensi lulusan harus dicapai pada akhir jenjang. Sebagai usaha untuk memudahkan operasional perumusan kompetensi dasar, diperlukan tujuan antara yang menyatakan capaian kompetensi pada tiap akhir jenjang kelas pada setiap jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) maupun Madrasah Aliyah (MA). Capaian kompetensi pada tiap akhir jenjang kelas dari Kelas I sampai VI, Kelas VII sampai dengan IX, Kelas X sampai dengan Kelas XII disebut dengan Kompetensi Inti.

    Download PMA Nomor 000912 Tahun 2013 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas PMA Nomor 000912 Tahun 2013 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab ini silahkan unduh pada link di bawah ini:

    Unduh File :

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai PMA Nomor 000912 Tahun 2013 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Semoga bisa bermanfaat.

    KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah

    Diposkan Oleh On June 12, 2018

    kma nomor 117 tahun 2014
    Berikut ini adalah Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah yang bisa Anda download berupa file format PDF yang kami sediakan pada akhir postingan ini.

    Dan berikut kami sampaikan juga kutipan teks dari isi berkas Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah:

    Implementasi Kurikulum 2013 pada Madrasah Ibtidaiyah (Ml), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)

    I. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MI, terdiri dari:
    A. Pendidikan Agama Islam
    1. Al-Qur'an Hadis;
    2. Akidah-Akhlak;
    3. Fikih; dan
    4. Sejarah Kebudayaan Islam.
    B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan;
    C. Bahasa Indonesia;
    D.Bahasa Arab;
    E. Matematika;
    F. Ilmu Pengetahuan Alam;
    G.llmu Pengetahuan Sosial;
    H. Seni Budaya dan Prakarya; dan
    I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.

    II. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MTs, terdiri dari:
    A. Pendidikan Agama Islam
    1. Al-Qur'an Hadis;
    2. Akidah-Akhlak;
    3. Fikih; dan
    4. Sejarah Kebudayaan Islam.
    B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
    C. Bahasa Indonesia;
    D. Bahasa Arab;
    E. Bahasa Inggris;
    F. Matematika;
    G.Ilmu Pengetahuan Alam; 
    H.Ilmu Pengetahuan Sosial;
    I. Seni Budaya;
    J. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan; dan
    K. Prakarya.

    III. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MA Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, terdiri dari:
    A. Pendidikan Agama Islam
    1. Al-Qur'an Hadis;
    2. Akidah-Akhlak;
    3. F'ikih; dan
    4. Sejarah Kebudayaan Islam.
    B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
    C. Bahasa Indonesia;
    D. Bahasa Arab;
    E. Bahasa Inggris; 
    F. Matematika; 
    G.Sejarah Indonesia; 
    H. Seni Budaya;
    I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan; 
    J. Prakarya dan Kewirausahaan;
    K. Matematika; 
    L. Biologi; 
    M.F'isika;
    N. Kimia; dan
    O. Pilihan Lintas Minat dan/ atau Pendalaman Minat.

    IV. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MA Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, terdiri dari:
    A. Pendidikan Agama Islam
    1. Al-Qur'an Hadis;
    2. Akidah-Akhlak;
    3. F'ikih; dan
    4. Sejarah Kebudayaan Islam.
    B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
    C. Bahasa Indonesia;
    D. Bahasa Arab;
    E. Bahasa lnggris;
    F. Matematika;
    G. Sejarah Indonesia;
    H. Seni Budaya;
    I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan;
    J. Prakarya dan Kewirausahaan;
    K. Geografi; 
    L. Sejarah;
    M. Sosiologi;
    N. Ekonomi; dan
    O. Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat.
    V. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MA Peminatan Ilmu-ilmu

    V. Bahasa dan Budaya, terdiri dari: 
    A. Pendidikan Agama Islam
    1. AI-Qur'an Hadis;
    2. Akidah-Akhlak;
    3. Fikih; dan
    4. Sejarah Kebudayaan Islam.
    B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
    C. Bahasa Indonesia;
    D. Bahasa Arab;
    E. Bahasa Inggris; 
    F. Matematika;
    G. Sejarah Indonesia; 
    H.Seni Budaya;
    I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan;
    J. Prakarya dan Kewirausahaan; 
    K. Bahasa dan Sastra Indonesia;
    L. Bahasa dan Sastra Inggris;
    M. Bahasa dan Sastra Asing lainnya; 
    N. Antropologi; dan
    O. Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat.

    VI. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MA Peminatan Ilmu-ilmu Keagamaan, terdiri dari:
    A. Pendidikan Agama Islam
    1. Al-Qur'an Hadis;
    2. Akidah-Akhlak;
    3. Fikih; dan
    4. Sejarah Kebudayaan Islam.
    B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
    C. Bahasa Indonesia;
    D. Bahasa Arab;
    E. Bahasa Inggris; 
    F. Matematika;
    G. Sejarah Indonesia;
    H. Seni Budaya;
    I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan; 
    J. Prakarya dan Kewirausahaan;
    K. Tafsir-Ilrnu Tafsir; 
    L. Hadis-llmu Hadis; 
    M. Fikih-Ushul Fikih; 
    N. llmu Kalam;
    O. Akhlak; dan
    P. Pilihan Lintas Minat dan/ atau Pendalaman Minat.

    VII.Mata pelajaran pada satuan pendidikan MAK, terdiri dari: 
    A. Pendidikan Agarna Islam
    1. Al-Qur'an Hadis;
    2. Akidah-Akhlak;
    3. Fikih; dan
    4. Sejarah Kebudayaan Islam.
    B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
    C. Bahasa Indonesia;
    D. Bahasa Arab;
    E. Bahasa lnggris; 
    F. Matematika;
    G. Sejarah Indonesia; 
    H. Seni budaya;
    I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan;
    J. Prakarya dan Kewirausahaan; dan
    K. Perminatan Akademik dan Vokasi.

      Download KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Download File :
      KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah.pdf

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah. Semoga bisa bermanfaat.

      Cuti Bersama PNS di Lingkungan Kemenag RI Sebelum dan Sesudah Idul Fitri 1439 H

      Diposkan Oleh On June 08, 2018

      cuti bersama pns kemenag idul fitri 1439 h
      Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan surat edaran dengan nomor : 18144/SJ/B.II/2-b/Kp.01.2/5/2018 tentang Pelaksanaan Cuti Bersama Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia Sebelum dan Sesudah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H. Adapaun isi kutipan dari surat edaran tersebut adalah sebagai berikut :

      Menindaklanjuti Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dab Reformasi Birokrasi Nomor 223 Tahun 2018, Nomor 46 Tahun 2018 dan Nomor 13 Tahun 2018 tentang perubahan Atas Keputusan Bersama Nomor 707 Tahun 2017, Nomor 256 Tahun 2017, Nomor 01/SKB/MENPAN-RB/09/2017 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2018 tanggal 18 April 2018, dipandang perlu menetapkan pelaksanaan Cuti Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Agama Tahun 2018 menjelang dan sesudah Hari Raya Idul Fitri Tahun 1439 H, dengan ketentuan sebagai berikut :
      1. Setiap pemimpin organisasi dan/atau satuan kerja di lingkungan Kemneterian Agama Republik Indonesia agar meningkatkan pengawasan jam masuk kerja pegawai sebelum dan sesudah pelaksanaan Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H;
      2. Untuk menjaga agar tidak terjadi kekosongan dalam pelaksanaan tugas, pemberian Cuti Tahunan kepada Pegawai Negeri Sipil di lingkungan satuan kerja masing-masing agar diatur pelaksanaannya yaitu 10% dari jumlah pegawai yang ada, karena sudah ada Kebijakan Cuti Bersama;
      3. Cuti Bersama sesudah Hari Raya Idul Fitri 1439 H, dilaksanakan pada hari Senin tanggal 11 Juni 2018 sampai dengan hari Rabu tanggal 20 JUni 2018 dan adalam pelaksanaan tugas kedinasan mulai efektif pada hari Kamis tanggal 21 JUni 2018;
      4. Setiap pimpinan unit satuan organisasi agar melakukan pengaturan dan pemantauan terhadap pelaksanaan cuti Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud, berupa laporan kehadiran pegawwai baik sebelum maupun sesudah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H kepada Sekertaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia dengan tembusan ke Inspektur Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia.
      Demikian Surat Edaran ini dibuat, untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Dan untuk lebih jelasnya mengenai surat edaran tentang Pelaksanaan Cuti Bersama Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia Sebelum dan Sesudah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H dapat Anda unduh melalui link berikut ini.

      Unduh File :
      Surat Edaran Cuti Bersama Idul Fitri 1439 H
      Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat....

      Pengumuman Kelulusan Peserta Seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) 2018

      Diposkan Oleh On June 04, 2018

      pengumuman pbsb 2018
      Baru-baru ini Kementerian Agama Republik Indonesia, Direktorat Pendidikan Isalam, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren telah mengeluarkan surat atau pengumuman dengan Nomor : 2067/Dt.I.V.4/Hm.01/05/2018 tentang Kelulusan Peserta Seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun Anggaran 2018. Dan berikut ini adalah kutipan dari surat pengumuman tersebut.

      Berdasarkan hasil seleksi, penilaian, dan penentuan oleh masing-masing Perguruan Tinggi Mitra (PTM) terkait, diumumkan nama-nama yang dinyatakan LULUS sesuai Berita Acara Penentuan Kelulusan Peserta Seleksi Calon Peserta PBSB Tahun 2018 sebagaimana terlampir.

      Terkait hal tersebut Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
      1. Kementerian Agama RI tidak memberikan biaya transport kepada santri yang lulus dari daerah asal ke perguruan tinggi masing-masing;
      2. Peserta yang dinyatakan lulus wajib melakukan konfirmasi kesediaan paling lambat 3 (tiga) hari setelah pengumuman pada tanggal 07 Juni 2018 melalui nomor contact pengelola PBSB di masing-masing PTM (terlampir);
      3. Peserta melakukan validasi data (Ijazah, Raport, Surat Keterangan Lulus UN asli ditunjukan, Formulir Registrasi, Tanda Peserta Seleksi, dan Rekomendasi Pesantren di fotocopy dan ditunjukan yang asli) ke Kanwil Kementerian Agama Propinsi setempat, paling lambat tanggal 29 Juni 2018;
      4. Peserta yang tidak melakukan konfirmasi, validasi data, dan registrasi sesuai jadwal yang telah ditentukan dianggap MENGUNDURKAN DIRI;
      5. Peserta yang dinyatakan lulus dan terbukti menggunakan data atau dokumen PALSU didiskualifikasi secara sepihak;
      6. Peserta yang membutuhkan pendamping lapangan dalam pelaksanaan registrasi dapat menghubungi Pengurus Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) masing-masing PTM (terlampir);
      7. Pengumuman KELULUSAN bagi peserta pilihan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Pra Test Pilihan UNAIR Surabaya akan diumumkan pada awal bulan Juli 2018;
      8. Peserta yang dinyatakan LULUS untuk WASPADA terhadap bentuk PENIPUAN dan PUNGUTAN LIAR mengatasnamakan PBSB Kementerian Agama RI;
      9. Pengumuman dan segala isinya tidak dapat diganggu gugat.
      Informasi kelulusan Peserta Seleksi Calon Peserta PBSB Tahun 2018 lebih lanjut dapat menghubungi Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren/TOS pada Kanwil Kementerian Agama Propinsi setempat, dan Pengelola PBSB Perguruan Tinggi Mitra.

      Selengkapnya mengenai Pengumuman Kelulusan Peserta Seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun Anggaran 2018 dapat diunduh melalui tautan link berikut ini.

      Unduh File :
      Pengumuman Kelulusan Peserta Seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) 2018
      Demikian mengenai Pengumuman Kelulusan Peserta Seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun Anggaran 2018 yang dapat kami sampaikan, Semoga bermanfaat...

      Hasil Seleksi Proposal Madrasah Young Researcher SuperCamp (MYRES) 2018

      Diposkan Oleh On June 04, 2018

      Hasil Seleksi Proposal Madrasah Young Researcher SuperCamp (MYRES) 2018
      Direktorat Kurikulum, Sarana,  Kelembagaan,  dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag mulai seleksi proposal Madrasah Young Researcher SuperCamp (MYRES) 2018. Total ada 666 proposal yang masuk dan akan dipilih 45 yang terbaik.

      Kasubdit Kesiswaan Abdullah Faqih mengatakan,  proposal MYRES terbagi dalam tiga bidang, yaitu: Sains Matematika dan Pengembangan Teknologi (378 proposal), Sosial Humaniora (204), dan Keagamaan (84).

      "Tim penilai saat ini tengah menyeleksi proposal yang masuk untuk memilih 15 besar proposal terbaik per bidang," terangnya di Jakarta,  Selasa (29/05).

      Aspek yang dinilai pada tahap seleksi ini,  lanjut Faqih, meliputi: ide dan orisinalitas penelitian, kesesuaian antara rumusan masalah/pertanyaan, pemilihan metode penelitian yang akan digunakan, dan nilai tambah/manfaat dari penelitian.

      "Proposal terpilih nantinya akan diikutkan dalam Workshop selama 4 hari yang akan dilaksanakan setelah Idul Fitri," sambungnya.

      Menurut Faqih,  tim juri terdiri dari 3 orang per bidang lomba. Juri merupakan para peneltii LIPI, Balitbang Diklat Kemenag, dan beberapa PTKIN.

      Faqih menambahkan,  tahapan MYRES diawali dengan pendaftaran dan penyerahan proposal yang berlangsung dari 29 Maret hingga 11 Mei. Tahap selanjutnya adalah seleksi proposal yang saat ini tengah berlangsung.

      "Hasil seleksi proposal akan diumumkan pada tanggal 4 Juni 2018," kata Faqih.

      Tahap selanjutnya,  siswa yang proposalnya lolos seleksi akan melakukan penelitian lapangan. Untuk membekali research skills, mereka akan diundang untuk melakukan workshop. Selama workshop, mereka akan mendapatkan bimbingan dan pendampingan tentang bagaimana membuat penelitian yang baik dari narsum yang kompeten dan berpengalaman dari LIPI, dosen UIN/IAIN, dan Balitbang Diklat Kementerian Agama

      "Dari peserta workshop ini, akan dipilih enam finalis di setiap bidang," tutur Faqih.

      Para finalis ini,  lanjut Faqih, akan diundang untuk mempresentasikan proposal penelitiannya. Kegiatan presentasi ini dilaksanakan bersamaan dengan event Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang digelar di Bengkulu pada 17-21 September 2018.

      Pada babak final, selain aspek yang dinilai pada saat seleksi proposal, dewan juri juga akan menilai kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan hasil penelitian baik itu penilaian laporan penelitian, poster dan kemampuan presentasi.

      "Para pemenang akan diberi kesempatan melakukan pameran hasil penelitiannya," ujar Faqih.

      Dan berikut ini adalah Hasil Seleksi Proposal Madrasah Young Researcher SuperCamp (MYRES) 2018 yang bisa Anda unduh melalui tautan link yang kami sediakan berikut ini.

      Unduh File :
      Hasil Seleksi Proposal Madrasah Young Researcher SuperCamp (MYRES) 2018
      Demikian yang dapat Guru Madrasah sampaikan mengenai Hasil Seleksi Proposal Madrasah Young Researcher SuperCamp (MYRES) 2018. Semoga bermanfaat... | sumber : kemenag.go.id

      Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Kemendikbud Edisi Keempat

      Diposkan Oleh On June 04, 2018

      Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
      Dalam Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Kemendikbud ini dibahas mengenai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik indonesia Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

      Penyempurnaan terhadap ejaan bahasa Indonesia telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penyempurnaan tersebut menghasil- kan naskah yang pada tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

      Ditinjau dari sejarah penyusunannya, sejak peraturan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin ditetapkan pada tahun 1901 berdasarkan rancangan Ch. A. van Ophuijsen dengan bantuan Engku Nawawi gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim, telah dilakukan penyempurnaan ejaan dalam berbagai nama dan bentuk.

      Pada tahun 1938, pada Kongres Bahasa Indonesia yang pertama di Solo, disarankan agar ejaan Indonesia lebih banyak diinternasionalkan. Pada tahun 1947 Soewandi, Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan pada masa itu, menetapkan dalam surat keputusannya tanggal 19 Maret 1947, No. 264/Bhg.A bahwa perubahan ejaan bahasa Indonesia dengan maksud membuat ejaan yang berlaku menjadi lebih sederhana. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan Ejaan Republik.

      Kongres Bahasa Indonesia Kedua, yang diprakarsai Menteri Moehammad Yamin, diselenggarakan di Medan pada tahun 1954. Kongres itu mengambil keputusan supaya ada badan yang menyusun peraturan ejaan yang praktis bagi bahasa Indonesia. Panitia yang dimaksud yang dibentuk oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusannya tanggal 19 Juli 1956, No. 44876/S, berhasil merumuskan patokan-patokan baru pada tahun 1957.

      Sesuai dengan laju pembangunan nasional, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan yang pada tahun 1968 menjadi Lembaga Bahasa Nasional, kemudian pada tahun 1975 menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, menyusun program pembakuan bahasa Indonesia secara menyeluruh. Di dalam hubungan ini, Panitia Ejaan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang disahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sarino Mangunpranoto, sejak tahun 1966 dalam surat keputusannya tanggal 19 September 1967, No. 062/1967, menyusun konsep yang ditanggapi dan dikaji oleh kalangan luas di seluruh tanah air selama beberapa tahun.

      Setelah rancangan itu akhirnya dilengkapi di dalam Seminar Bahasa Indonesia di Puncak pada tahun 1972 dan diperkenalkan secara luas oleh sebuah panitia yang ditetapkan dengan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 20 Mei 1972, No.

      03/A.I/72, pada hari Proklamasi Kemerdekaan tahun itu juga dires- mikanlah aturan ejaan yang baru itu berdasarkan keputusan Presi- den, No. 57, tahun 1972, dengan nama Ejaan yang Disempurnakan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.

      Daftar Isi pada Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Kemendikbud ini antara lain:

      PEMAKAIAN HURUF
      1. Huruf Abjad
      2. Huruf Vokal
      3. Huruf Konsonan
      4. Huruf Diftong
      5. Gabungan Huruf Konsonan
      6. Huruf Kapital
      7. Huruf Miring
      8. Huruf Tebal
      PENULISAN KATA
      1. Kata Dasar
      2. Kata Berimbuhan
      3. Bentuk Ulang
      4. Gabungan Kata
      5. Pemenggalan Kata
      6. Kata Depan
      7. Partikel
      8. Singkatan dan Akronim
      9. Angka dan Bilangan
      10. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, -nya
      11. Kata Sandang si dan sang
      PEMAKAIAN TANDA BACA
      1. Tanda Titik (.)
      2. Tanda Koma (,)
      3. Tanda Titik Koma (;)
      4. Tanda Titik Dua (:)
      5. Tanda Hubung (-)
      6. Tanda Pisah (—)
      7. Tanda Tanya (?)
      8. Tanda Seru (!)
      9. Tanda Elipsis ()
      10. Tanda Petik (“”)
      11. Tanda Petik Tunggal (‘’)
      12. Tanda Kurung (())
      13. Tanda Kurung Siku ([])
      14. Tanda Garis Miring (/)
      15. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

        Download Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Kemendikbud

        Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Kemendikbud ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini.

        Unduh File :
        Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Kemendikbud yang dapat Blog Guru Madrasah sampaikan. Semoga bisa bermanfaat.