Kabar Terbaru

Aplikasi

Pengunjung

SEJAK 1 MEI 2017

Flag Counter

Total Pageviews

Silabus Kurikulum 2013 Kelas 1,2,3,4,5 dan 6 SD/MI Tahun 2018

Diposkan Oleh On June 16, 2018

silabus kurikulum k13 sd-mi
Pembelajaran dengan pendekatan tematik dalam SILABUS KURIKULUM 2013 ini mencakup kompetensi mata pelajaran yaitu: PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dn Prakarya, dan Pendidikan Jasmani Olahraga serta Kesehatan. Sedangkan mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tidak termasuk mata pelajaran dalam tematik. Pembelajaran tematik dilaksanakan di semua kelas di SD baik di kelas I-III (kelas rendah) maupun kelas IV–VI (kelas tinggi). Di kelas rendah belum ada mata pelajaran IPA serta IPS yg berdiri sendiri namun muatan IPA serta IPS diintegrasikan ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.  Untuk mata pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani Olahraga serta Kesehatan dilakukan secara tematik hanya sampai dengan kelas III, untuk kelas IV, V, serta VI diajarkan sebagai mata pelajaran yng berdiri sendiri.

Integrasi SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 sebagai suatu pengelolaan pembelajaransekitar problem dn isu di masyarakat, sehingga diperlukan kolaborasi oleh guru dan siswa tanpa memandang pada mata pelajaran.  Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran  mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Penentuan tema  dijadikan sebagai ide besar dari pembelajaran yang menghubungkan konsep dn kompetensi yg ingin dicapai oleh siswa.

Pendekatan dalam SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 dimaksudkan agar siswa tidak belajar secara parsial sehingga pembelajaran dapat memberikan makna yg utuh pada siswa seperti tercermin pada berbagai tema yg tersedia.  Tema yng pilih sedapat mungkin didekatkan dengan hal-hal dialami siswa.  Pembelajaran tematik disusun berdasarkan berbagai proses integrasi yaitu integrasi intradisipliner, multi-disipliner inter-disipliner, dan trans-disipliner. Muatan-muatan dapat diintegrasikan dalam pembelajaran merujuk pada aktivitas besar yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, yaitu kemaritiman, agraris, dan niaga/jasa. 

Oleh karena itu, dalam SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 kontekstual pendidikan perlu dipersiapkan pada peserta didik agar dapat hidup di masa depan & beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah melalui kemampuan berfikir kritis/memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi dn kolaborasi.  Selain itu peserta didik juga disiapkan dengan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan sebagai suatu keterampilan dalam kehidupan sehari-hari sebagai aplikasi dari kemampuan baca tulis, berhitung, literasi sains, literasi informasi teknologi ,komunikasi, literasi keuangan, serta literasi budaya serta kewarganegaraan.  Terpenting dari semua itu, pendidikan diarahkan untuk membangun kecintaan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yg merepresentasikan kebhinekaan agama, suku bangsa, bahasa, sosial, ekonomi, dan budaya masyakarat Indonesia. Peserta didik juga diharapkan menjadi warga negara yg bertanggung jawab dengan memahami hak dn kewajiban sebagai warga negara Indonesia juga dibatasi oleh hak & kewajiban warga negara lainnya.  Untuk itu pembelajaran diarahkan untuk membangun empati, demokratis, dan memberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat serta menerima pendapat orang lain.

SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 merupaan silabus tematik yng dikembangkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan merupakan suatu model, satuan pendidikan dapat mengembangkan silabus tematik dengan mengambil tema yang disesuaikan dengan karakteristik satuan pendidikan.  Satuan pendidikan juga dapat langsung menggunakan model silabus ini atau dapat juga dengan mengadaptasi sesuai karakteristik satuan pendidikan. Selain itu, bagi guru yg ingin menyusun sendiri pembelajaran tematik terpadu dapat menggunakan Silabus Mata Pelajaran di SD/MI yng terpisah dari dokumen ini.

B. Karakteristik Mata Pelajaran di SD dalan SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,          (SD/MI) TAHUN 2018 .
Kurikulum 2013 memiliki tujuan khusus untuk mempersiapkan generasi baru sertapenerus bangsa yang memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dn warga negara yg beriman, produktif, kreatif, inovatif, serta afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dn peradaban dunia.  Untuk itu, perancangan kurikulum 2013 perlu memperhatikan kebutuhan siswa saat ini dan di masa depan yang dinamis ditengah pengaruh globalisasi dn kemajemukan masyarakat Indonesia.  

Memperhatikan konteks global dn kemajemukan masyarakat Indonesia itu, misi & orientasi kurikulum 2013 tertuangkan dalam  SILABUS KURIKULUM 2013 KELAS 1,2,3,4,5,6,(SD/MI) TAHUN 2018 diterjemahkan dalam praktik pendidikan dengan tujuan khusus agar siswa memiliki kompetensi diperlukan bagi kehidupan masyarakat di masa kini serta di masa mendatang. Kompetensi dimaksud meliputi tiga kompetensi, yaitu: (1) menguasai pengetahuan; (2) memiliki keterampilan atau kemampuan menerapkan pengetahuan; (3) menumbuhkan sikap spiritual serta etika sosial tinggi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Kompetensi sikap spiritual , sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dn budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa. Penumbuhan serta pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang  proses pembelajaran berlangsung,  dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter siswa lebih lanjut. Mata pelajaran yang diajarkan secara tematik di SD adalah:
1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
2. Bahasa Indonesia
3. Matematika
4. Ips
5. Ipa
6. Pjok
7. Sbdb

C. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu dalam silabus kurikulum 2013 meliputi
        Pembelajaran tematik terpadu memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu.
2. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan kompetensi melalui tema yang paling dekat          dengan kehidupan peserta didik.
3. Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan dengan                  berbagai konsep, keterampilan dan sikap.
4. Sumber belajar tidak terbatas pada buku.
5. siswa dapat bekerja secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan karakteristik kegiatan            yng dilakukan
6. Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran agar dapat mengakomodasi siswa              memiliki perbedaan tingkat kecerdasan, pengalaman, dn ketertarikan terhadap suatu topik.
7. Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak dapat dipadukan dapat diajarkan tersendiri.
8. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa(direct experiences) dari hal-hal yang konkret menuju ke abstrak.
9. Pembelajaran tematik yang dirancang dalam silabus bukan merupakan urutan Pembelajaran, melainkan bentuk Pembelajaran untuk mencapai Kompetensi Dasar guru dapat melakukan penyesuaikan.

Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab

Diposkan Oleh On June 13, 2018

kurikulum madrasah 2013 mapel pai dan bahsa arab
KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM 2013
Pendahuluan
1. Kerangka Umum
Kerangka dasar kurikulum Madrasah merupakan landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum. Sedang struktur kurikulum Madrasah merupakan pengorganisasian kompetensi inti, mata pelajaran, beban belajar dan kompetensi dasar pada setiap Madrasah.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam segala urusan yang menjadi tanggung jawabnya. 

KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah

Diposkan Oleh On June 12, 2018

kma nomor 117 tahun 2014
Berikut ini adalah Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah yang bisa Anda download berupa file format PDF yang kami sediakan pada akhir postingan ini.

Dan berikut kami sampaikan juga kutipan teks dari isi berkas Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah:

Implementasi Kurikulum 2013 pada Madrasah Ibtidaiyah (Ml), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)

I. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MI, terdiri dari:
A. Pendidikan Agama Islam
  1. Al-Qur'an Hadis;
  2. Akidah-Akhlak;
  3. Fikih; dan
  4. Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan;
C. Bahasa Indonesia;
D.Bahasa Arab;
E. Matematika;
F. Ilmu Pengetahuan Alam;
G.llmu Pengetahuan Sosial;
H. Seni Budaya dan Prakarya; dan
I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.

II. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MTs, terdiri dari:
A. Pendidikan Agama Islam
  1. Al-Qur'an Hadis;
  2. Akidah-Akhlak;
  3. Fikih; dan
  4. Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
C. Bahasa Indonesia;
D. Bahasa Arab;
E. Bahasa Inggris;
F. Matematika;
G.Ilmu Pengetahuan Alam; 
H.Ilmu Pengetahuan Sosial;
I. Seni Budaya;
J. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan; dan
K. Prakarya.

III. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MA Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, terdiri dari:
A. Pendidikan Agama Islam
  1. Al-Qur'an Hadis;
  2. Akidah-Akhlak;
  3. F'ikih; dan
  4. Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
C. Bahasa Indonesia;
D. Bahasa Arab;
E. Bahasa Inggris; 
F. Matematika; 
G.Sejarah Indonesia; 
H. Seni Budaya;
I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan; 
J. Prakarya dan Kewirausahaan;
K. Matematika; 
L. Biologi; 
M.F'isika;
N. Kimia; dan
O. Pilihan Lintas Minat dan/ atau Pendalaman Minat.

IV. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MA Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, terdiri dari:
A. Pendidikan Agama Islam
  1. Al-Qur'an Hadis;
  2. Akidah-Akhlak;
  3. F'ikih; dan
  4. Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
C. Bahasa Indonesia;
D. Bahasa Arab;
E. Bahasa lnggris;
F. Matematika;
G. Sejarah Indonesia;
H. Seni Budaya;
I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan;
J. Prakarya dan Kewirausahaan;
K. Geografi; 
L. Sejarah;
M. Sosiologi;
N. Ekonomi; dan
O. Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat.
V. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MA Peminatan Ilmu-ilmu

V. Bahasa dan Budaya, terdiri dari: 
A. Pendidikan Agama Islam
  1. AI-Qur'an Hadis;
  2. Akidah-Akhlak;
  3. Fikih; dan
  4. Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
C. Bahasa Indonesia;
D. Bahasa Arab;
E. Bahasa Inggris; 
F. Matematika;
G. Sejarah Indonesia; 
H.Seni Budaya;
I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan;
J. Prakarya dan Kewirausahaan; 
K. Bahasa dan Sastra Indonesia;
L. Bahasa dan Sastra Inggris;
M. Bahasa dan Sastra Asing lainnya; 
N. Antropologi; dan
O. Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat.

VI. Mata pelajaran pada satuan pendidikan MA Peminatan Ilmu-ilmu Keagamaan, terdiri dari:
A. Pendidikan Agama Islam
  1. Al-Qur'an Hadis;
  2. Akidah-Akhlak;
  3. Fikih; dan
  4. Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
C. Bahasa Indonesia;
D. Bahasa Arab;
E. Bahasa Inggris; 
F. Matematika;
G. Sejarah Indonesia;
H. Seni Budaya;
I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan; 
J. Prakarya dan Kewirausahaan;
K. Tafsir-Ilrnu Tafsir; 
L. Hadis-llmu Hadis; 
M. Fikih-Ushul Fikih; 
N. llmu Kalam;
O. Akhlak; dan
P. Pilihan Lintas Minat dan/ atau Pendalaman Minat.

VII.Mata pelajaran pada satuan pendidikan MAK, terdiri dari: 
A. Pendidikan Agarna Islam
  1. Al-Qur'an Hadis;
  2. Akidah-Akhlak;
  3. Fikih; dan
  4. Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; 
C. Bahasa Indonesia;
D. Bahasa Arab;
E. Bahasa lnggris; 
F. Matematika;
G. Sejarah Indonesia; 
H. Seni budaya;
I. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan;
J. Prakarya dan Kewirausahaan; dan
K. Perminatan Akademik dan Vokasi.

    Download KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    Download File :
    KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah.pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai KMA Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi  Kurikulum 2013 di Madrasah. Semoga bisa bermanfaat.

    Panduan Penetapan KKM Pengertian, Fungsi, Mekanisme dan Analisis KKM

    Diposkan Oleh On May 27, 2018

    Panduan Penetapan KKM Pengertian, Fungsi, Mekanisme dan Analisis KKM
    Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan telah bergulir dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana- prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

    Tindak lanjut dari SNP adalah ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas):
    No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI);
    No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL);
    No. 24 tahun 2006 dan No. 6 tahun 2007 tentang Pelaksanaan SI dan SKL;
    No. 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah;
    No. 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah;
    No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru;
    No. 18 tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan;
    No. 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan;
    No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian;
    No. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana Prasarana; dan
    No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses.

    UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa kurikulum pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Pemerintah tidak lagi menetapkan kurikulum secara nasional seperti pada periode sebelumnya. Satuan pendidikan harus mengembangkan sendiri kurikulum sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan serta potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungannya.

    Berbagai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang berkaitan dengan Standar Nasional Pendidikan merupakan acuan dan pedoman dalam mengembangkan, melaksanakan, mengevaluasi keterlaksanaannya, dan menindaklanjuti hasil evaluasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa salah satu tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan SMA adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum.

    Selanjutnya, dalam Permendiknas Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah dijelaskan bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas antara lain melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum.

    Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan berdasarkan standar nasional memerlukan langkah dan strategi yang harus dikaji berdasarkan analisis yang cermat dan teliti. Analisis dilakukan terhadap tuntutan kompetensi yang tertuang dalam rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar; Analisis mengenai kebutuhan dan potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungan; Analisis peluang dan tantangan dalam memajukan pendidikan pada masa yang akan datang dengan dinamika dan kompleksitas yang semakin tinggi.

    Penjabaran Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) sebagai bagian dari pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilakukan melalui pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus merupakan penjabaran umum dengan mengembangkan SK-KD menjadi indikator, kegiatan pembelajaran, materi pembelajaran, dan penilaian. Penjabaran lebih lanjut dari silabus dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran.

    Penetapan kriteria minimal ketuntasan belajar merupakan tahapan awal pelaksanaan penilaian hasil belajar sebagai bagian dari langkah pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi yang menggunakan acuan kriteria dalam penilaian, mengharuskan pendidik dan satuan pendidikan menetapkan kriteria minimal yang menjadi tolok ukur pencapaian kompetensi. Oleh karena itu, diperlukan panduan yang dapat memberikan informasi tentang penetapan kriteria ketuntasan minimal yang dilakukan di satuan pendidikan.

    Tujuan
    Penyusunan panduan ini bertujuan untuk:
    1. Memberikan pemahaman lebih luas cara menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran di satuan pendidikan, serta melakukan analisis terhadap hasil belajar yang dicapai;
    2. Mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui penetapan KKM yang optimal sehingga meningkat secara bertahap;
    3. Mendorong pendidik dan satuan pendidikan melakukan analisis secara teliti dan cermat dalam menetapkan KKM serta menindaklanjutinya.

    Ruang Lingkup
    Ruang lingkup penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mencakup pengertian dan fungsi KKM, mekanisme penetapan KKM, dan analisis KKM.

    Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal
    Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

    KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 6,0 sesuai proporsi kurva. Acuan kriteria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui kriteria ketuntasan minimal.

    Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM.

    Kriteria ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap.

    Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya. Satuan pendidikan perlu melakukan sosialisasi agar informasi dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik dan atau orang tuanya. Kriteria ketuntasan minimal harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB) sebagai acuan dalam menyikapi hasil belajar peserta didik. 

    Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal
    Fungsi kriteria ketuntasan minimal:
    1. sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Setiap kompetensi dasar dapat diketahui ketercapaiannya berdasarkan KKM yang ditetapkan. Pendidik harus memberikan respon yang tepat terhadap pencapaian kompetensi dasar dalam bentuk pemberian layanan remedial atau layanan pengayaan;
    2. sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata pelajaran. Setiap kompetensi dasar (KD) dan indikator ditetapkan KKM yang harus dicapai dan dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik diharapkan dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian agar mencapai nilai melebihi KKM. Apabila hal tersebut tidak bisa dicapai, peserta didik harus mengetahui KD-KD yang belum tuntas dan perlu perbaikan;
    3. dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasi keterlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan pencapaian KKM sebagai tolok ukur. Oleh karena itu hasil pencapaian KD berdasarkan KKM yang ditetapkan perlu dianalisis untuk mendapatkan informasi tentang peta KD-KD tiap mata pelajaran yang mudah atau sulit, dan cara perbaikan dalam proses pembelajaran maupun pemenuhan sarana- prasarana belajar di sekolah;
    4. merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara pendidik, peserta didik, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua. Pendidik melakukan upaya pencapaian KKM dengan memaksimalkan proses pembelajaran dan penilaian. Peserta didik melakukan upaya pencapaian KKM dengan proaktif mengikuti kegiatan pembelajaran serta mengerjakan tugas-tugas yang telah didesain pendidik. Orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi dan dukungan penuh bagi putra-putrinya dalam mengikuti pembelajaran. Sedangkan pimpinan satuan pendidikan berupaya memaksimalkan pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran dan penilaian di sekolah;
    5. merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan salah satu tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam menyelenggarakan program pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat. 

    Mekanisme Penetapan KKM

    Prinsip Penetapan KKM
    Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal perlu mempertimbangkan beberapa ketentuan sebagai berikut:
    1. Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan keputusan yang dapat dilakukan melalui metode kualitatif dan atau kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilakukan melalui professional judgement oleh pendidik dengan mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman pendidik mengajar mata pelajaran di sekolahnya. Sedangkan metode kuantitatif dilakukan dengan rentang angka yang disepakati sesuai dengan penetapan kriteria yang ditentukan;
    2. Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi;
    3. Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) merupakan rata- rata dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut. Peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut;
    4. Kriteria ketuntasan minimal setiap Standar Kompetensi (SK) merupakan rata-rata KKM Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat dalam SK tersebut;
    5. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran merupakan rata-rata dari semua KKM-SK yang terdapat dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran, dan dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB/Rapor) peserta didik;
    6. Indikator merupakan acuan/rujukan bagi pendidik untuk membuat soal-soal ulangan, baik Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS) maupun Ulangan Akhir Semester (UAS). Soal ulangan ataupun tugas-tugas harus mampu mencerminkan/menampilkan pencapaian indikator yang diujikan. Dengan demikian pendidik tidak perlu melakukan pembobotan seluruh hasil ulangan, karena semuanya memiliki hasil yang setara;
    7. Pada setiap indikator atau kompetensi dasar dimungkinkan adanya perbedaan nilai ketuntasan minimal.

    Langkah-Langkah Penetapan KKM
    Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran. Langkah penetapan KKM adalah sebagai berikut: 
    1. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan mempertimbangkan tiga aspek kriteria, yaitu kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik dengan skema sebagai berikut: KKM Indikator --> KKM KD --> KKM SK --> KKM MP. Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD, SK hingga KKM mata pelajaran;
    2. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian;
    3. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua, dan dinas pendidikan;
    4. KKM dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada orang tua/wali peserta didik.

    Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal
    Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penentuan kriteria ketuntasan minimal adalah:
    1. Tingkat kompleksitas, kesulitan/kerumitan setiap indikator, kompetensi dasar, dan standar kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Suatu indikator dikatakan memiliki tingkat kompleksitas tinggi, apabila dalam pencapaiannya didukung oleh sekurang-kurangnya satu dari sejumlah kondisi sebagai berikut: a. guru yang memahami dengan benar kompetensi yang harus dibelajarkan pada peserta didik; b. guru yang kreatif dan inovatif dengan metode pembelajaran yang bervariasi; c. guru yang menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai bidang yang diajarkan; d. peserta didik dengan kemampuan penalaran tinggi; e. peserta didik yang cakap/terampil menerapkan konsep; f. peserta didik yang cermat, kreatif dan inovatif dalam penyelesaian tugas/pekerjaan; g. waktu yang cukup lama untuk memahami materi tersebut karena memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang tinggi, sehingga dalam proses pembelajarannya memerlukan pengulangan/latihan; h. tingkat kemampuan penalaran dan kecermatan yang tinggi agar peserta didik dapat mencapai ketuntasan belajar. 
    2. Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran pada masing-masing sekolah. a. Sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dicapai peserta didik seperti perpustakaan, laboratorium, dan alat/bahan untuk proses pembelajaran; b. Ketersediaan tenaga, manajemen sekolah, dan kepedulian stakeholders sekolah. Contoh: SK 3. : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor- faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan industri. KD 3.3: Menjelaskan keseimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah keseimbangan dengan melakukan percobaan. Indikator: Menyimpulkan pengaruh perubahan suhu, konsentrasi, tekanan, dan volume pada pergeseran keseimbangan melalui percobaan. Daya dukung untuk Indikator ini tinggi apabila sekolah mempunyai sarana prasarana yang cukup untuk melakukan percobaan, dan guru mampu menyajikan pembelajaran dengan baik. Tetapi daya dukungnya rendah apabila sekolah tidak mempunyai sarana untuk melakukan percobaan atau guru tidak mampu menyajikan pembelajaran dengan baik.
    3. Tingkat kemampuan (intake) rata-rata peserta didik di sekolah yang bersangkutan Penetapan intake di kelas X dapat didasarkan pada hasil seleksi pada saat penerimaan peserta didik baru, Nilai Ujian Nasional/Sekolah, rapor SMP, tes seleksi masuk atau psikotes; sedangkan penetapan intake di kelas XI dan XII berdasarkan kemampuan peserta didik di kelas sebelumnya.

    Analisis Kriteria Ketuntasan Minimal
    Pencapaian kriteria ketuntasan minimal perlu dianalisis untuk dapat ditindaklanjuti sesuai dengan hasil yang diperoleh. Tindak lanjut diperlukan untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam pelaksanaan pembelajaran maupun penilaian. Hasil analisis juga dijadikan sebagai bahan pertimbangan penetapan KKM pada semester atau tahun pembelajaran berikutnya.

    Analisis pencapaian kriteria ketuntasan minimal bertujuan untuk mengetahui tingkat ketercapaian KKM yang telah ditetapkan. Setelah selesai melaksanakan penilaian setiap KD harus dilakukan analisis pencapaian KKM. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan analisis rata-rata hasil pencapaian peserta didik kelas X, XI, atau XII terhadap KKM yang telah ditetapkan pada setiap mata pelajaran. Melalui analisis ini akan diperoleh data antara lain:
    1. KD yang dapat dicapai oleh 75% - 100% dari jumlah peserta didik pada kelas X, XI, atau XII;
    2. KD yang dapat dicapai oleh 50% - 74% dari jumlah peserta didik pada kelas X, XI, atau XII;
    3. KD yang dapat dicapai oleh ≤ 49% dari jumlah siswa peserta didik kelas X, XI, atau XII.
    Manfaat hasil analisis adalah sebagai dasar untuk meningkatkan kriteria ketuntasan minimal pada semester atau tahun pembelajaran berikutnya. Analisis pencapaian kriteria ketuntasan minimal dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data perolehan nilai setiap peserta didik per mata pelajaran. 

      Download Panduan Penetapan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Pengertian, Fungsi, Mekanisme dan Analisis KKM

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Panduan Penetapan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Pengertian, Fungsi, Mekanisme dan Analisis KKM ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Download File:

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai Panduan Penetapan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Pengertian, Fungsi, Mekanisme dan Analisis KKM. Semoga bisa bermanfaat.

      Buku Guru dan Siswa Kelas 7 SMP/MTs Kurikulum 2013 Revisi 2017

      Diposkan Oleh On May 01, 2018

      Buku Guru dan Siswa Kelas 7 SMP/MTs Kurikulum 2013 Revisi 2017
      Buku Kurikulum 2013 revisi 2017 untuk Kelas 7 SMP/MTs ini melengkapi daftar buku K13 edisi revisi tahun 2017. Pada Tahun Pelajaran 2017/2018 ini semakin banyak madrasah yang harus menyelenggarakan Kurikulum 2013, terutama bagi kels VII Madrasah Tsanawiyah. Tentunya ini mengharuskan setiap guru dan siswa memiliki buku ini.

      Pun bagi madrasah-madrasah yang tahun sebelumnya telah menyelenggarakan Kurtilas. Tahun ini musti kembali melaksanakannya tetapi dengan menggunakan buku yang baru, edisi revisi 2017.

      Dalam pelaksanaannya, Kurikulum 2013 mengalami beberapa kali pengembangan. Ini berimbas pada buku pegangan yang digunakan. Setelah dicetak pertama kali pada 2013, Buku Guru maupun Buku Siswa K13 ini mengalami beberapa kali revisi. Revisi pertama pada tahun 2014, dilanjutkan revisi tahun 2016, dan terakhir adalah edisi revisi 2017.

      Pada kesempatan kali ini Blog Guru Madrasah memberikan link mirror download Buku Kurikulum 2013 Revisi tahun 2017 untuk Kelas VII SMP/MTs. Agar para guru, siswa, dan orang tua siswa yang membutuhkannya dapat mengunduhnya dengan mudah.

      Bagi Madrasah Tsanawiyah yang telah menyelenggarakan Kurikulum 2013, dapat mengunduh daftar buku K-13 edisi Revisi Tahun 2017. Link download tersedia di bawah.

      Adapun daftar Buku Guru dan Buku Siswa yang tersedia adalah sebagai berikut:
      Buku Guru Kurikulum 2013 Revisi 2017 untuk Kelas VII SMP/MTs
      • Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru Bahasa Inggris Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru IPA Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru IPS Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru Matematika Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru PAI Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru PJOK Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru PPKn Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru Prakarya Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Guru Seni Budaya Kelas VII Revisi 2017; Disini 
      Buku Siswa Kurikulum 2013 Revisi 2017 untuk Kelas VII SMP/MTs
      • Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Siswa Bahasa Inggris Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Siswa IPA Kelas VII Revisi 2017 Semester 1; Disini
      • Buku Siswa IPA Kelas VII Revisi 2017 Semester 2; Disini
      • Buku Siswa IPS Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD 
      • Buku Siswa Matematika Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Siswa PAI Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD 
      • Buku Siswa PJOK Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Siswa PPKn Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Siswa Prakarya Kelas VII Revisi 2017; Disini
      • Buku Siswa Seni Budaya Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD 
      Demikian informasi mengenai Buku Guru dan Siswa Kelas 7 SMP/MTs Kurikulum 2013 Revisi 2017 yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat... sumber


      Materi Pengembangan Kurikulum PAI dan Penyusunan Soal HOTS

      Diposkan Oleh On April 28, 2018

      materi pengembangan kurikulum dan penyususnan soal hots
      Penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan diharapkan juga mampu mengubah iklim pembelajaran menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan partisipatif, serta mampu merangsang mampu merangsang kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa, bahkan sampai membuat siswa menghasilkan sebuah karya. Dengan kata lain, pembelajaran diharapkan berada pada level yang lebih tinggi baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

      Penerapan beberapa model pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (project based learning),pembelajaran berbasis masalah (problem based learning),pembelajaran dengan pendekatan penyelesaian masalah (problem solving),menemukan (discovery/ inquiry) menjadi peluang bagi guru untuk menerapkan kegiatan pembelajaran pada level HOTS (Higher Order Thinking Skill).Tinggal bergantung kepada kemampuan guru dalam merencang dan mengimplementasikannya pada pembelajaran.

      Kegiatan pembelajaran pun diharapkan didesain secara kolaboratif untuk melatih kerjasama, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berargumentasi, serta kemampuan mengendalikan emosi. Dengan demikian, disamping belajar materi pelajaran, siswa pun diberikan penanaman pendidikan karakter dan literasi sebagaimana yang saat ini diamanatkan oleh Kemdikbud dimana kedua hal tersebut harus diintegrasikan pada kegiatan pembelajaran.

      Pada prakteknya, penerapan pembelajaran HOTS bukan hal yang mudah dilaksanakan oleh guru. Disamping guru harus benar-benar menguasai materi dan strategi pembelajaran, guru pun dihadapkan pada tantangan dengan lingkungan dan intake siswa yang diajarnya. Kadang guru sudah merasa berbuat maksimal agar kegiatan pembelajaran menarik, tetapi respon para siswa tetap saja dingin, dan relatif pasif. Kegiatan pembelajaran masih berkutat pada duduk, dengar, catat, dan hafal (DDCH).

      Dalam penulisan soal HOTS, maka guru diharapkan mampu menyusun soal-soal HOTS dengan baik agar siswa tidak hanya menjawab pada level C-1 (mengetahui), C-2 (memahami), dan C-3 (menerapkan), tetapi juga pada level C-4 (sintesis/ analisis), C-5 (evaluasi), dan C-6 (berkreasi). Untuk mewujudkan hal tersebut, pada penyegaran tim pengembang K-13 pun disampaikan atau disampaikan materi tentang soal-soal HOTS. Tujuannya disamping untuk meningkatkan kualitas soal, juga untuk membiasakan siswa mengerjakan soal standar olimpiade internasional.

      Maka dari itu berikut ini kami sampaikan Materi Pengembangan Kurikulum PAI dan Penyusunan Soal HOTS yang dapat Anda unduh melalui tautan link berikut ini.

      Unduh File :
      Materi Pengembangan Kurikulum PAI dan Penyusunan Soal HOTS
      Demikian postingan kali ini mengenai Materi Pengembangan Kurikulum PAI dan Penyusunan Soal HOTS. Semoga bermanfaat...

      Inilah Beban Belajar dan Struktur Kurikulum MTs Tahun 2018

      Diposkan Oleh On April 07, 2018

      struktur kurikulum mts 2018
      Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran, posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum, dostribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun, beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar  dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran.  Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester.

      Struktur kurikulum  juga gambaran mengenai penerapan prinsip kurikulum mengenai posisi seorang siswa dalam menyelesaikan pembelajaran di suatu satuan atau jenjang pendidikan. Dalam struktur kurikulum menggambarkan ide kurikulum mengenai  posisi belajar seorang siswa yaitu apakah mereka harus menyelesaikan seluruh mata pelajaran yang tercantum dalam struktur ataukah kurikulum memberi kesempatan kepada siswa untuk menentukan berbagai pilihan.

      Kerangka dasar kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah merupakan landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis, dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum pada tingkat nasional dan pengembangan muatan lokal pada tingkat daerah serta pedoman pengembangan kurikulum pada Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.

      Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah merupakan pengorganisasian kompetensi inti, matapelajaran, beban belajar, kompetensi dasar, dan muatan pembelajaran pada setiap Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.

      Pengembangan   kurikulum   perlu   dilakukan   karena   adanya berbagai tantangan  yang  dihadapi,  baik  tantangan  internal  maupun  tantangan eksternal.  Disamping  itu,  dalam  menghadapi  tuntutan  perkembangan zaman,  perlu  adanya  penyempurnaan  pola  pikir  dan  penguatan  tata kelola  kurikulum  serta  pendalaman  dan  perluasan  materi.  Selain  itu yang   tidak   kalah pentingnya   adalah   perlunya   penguatan   proses  pembelajaran  dan  penyesuaian  beban  belajar  agar  dapat  menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan.
      1. Struktur Kurikulum MTs
      struktur kurikulum mts 2018
      Keterangan:
      • Mata pelajaran Kelompok A merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat.
      • Mata pelajaran Kelompok B merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal.
      • Mata pelajaran Kelompok B dapat berupa mata pelajaran muatan lokal yang berdiri sendiri.
      • Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah.
      • Khusus untuk Madrasah Tsanawiyah struktur kurikulum dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang diatur oleh Kementerian Agama.
      2. Beban Belajar di MTs
      Beban belajar di MTs merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti siswa dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun pembelajaran.
      • Beban belajar di Madrasah Tsanawiyah dinyatakan dalam jam pembelajaran per mi Beban belajar satu minggu Kelas VII, VIII, dan IX adalah 46 jam pembelajaran. Durasi setiap satu jam pembelajaran adalah 40 menit.
      • Beban belajar di Kelas VII, VIII, dan IX dalam satu semester paling sedikit 18 minggu dan paling banyak 20 minggu.
      • Beban belajar dikelas IX pada semester ganjil paling sedikit 18 minggu dan paling banyak 20 minggu.
      • Beban belajar dikelas IX pada semester genap paling sedikit 14 Minggu dan paling banyak 16 minggu.
      • Beban belajar dalam satu tahun pelajaran paling sedikit 36 minggu dan paling banyak 40 minggu.
      3. Penugasasan
      • Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.
      • Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh siswa.
      • Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri, paling banyak 50% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan
      4. Penambahan Beban Belajar
      Satuan pendidikan dapat menambah beban belajar 2 (dua) jam per minggu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang dianggap penting.

      5. Seni Budaya, Prakarya, dan Kewirausahaan
      Untuk Mata Pelajaran Seni Budaya, Prakarya, dan kewirausahaan, satuan pendidikan wajib menyelenggarakan minimal 2 dari 4 aspek yang disediakan. Siswa mengikuti salah satu aspek yang disediakan untuk setiap semester, aspek yang diikuti dapat diganti setiap semester.

      6. Kegiatan Pengembangan Diri
      Kegiatan pengembangan diri berupa ekstrakurikuler terdiri atas Pendidikan Kepramukaan (wajib), usaha kesehatan sekolah (UKS), palang merah remaja (PMR), dan lainnya sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing satuan pendidikan.

      Demikianlah informasi tentang Beban Belajar dan Struktur Kurikulum MTs Tahun 2018 yang dapat Blog Guru Madrasah sampaikan,  Semoga bermanfaat.